Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Januari 2014

Mungkin banyak di antara kawan-kawan yang kesehariannya sangat sibuk, pergi bekerja ketika mentari masih ngantuk dan setengah kriyip-kriyip kemudian pulang ke rumah di kala matahari telah bobok dengan nyenyaknya. Namun di tengah padatnya aktivitas masih menginginkan suasana asri, baik di dalam datau di luar rumah. Nah mungkin tidak ada salahnya kalau kawan-kawan menanam kaktus. Bentuknya yang unik, durinya yang eksotik, warnanya yang menarik dan bunganya yang cantik, sungguh sangat cocok untuk memanjakan mata di kala penat mendera, dan yang paling penting, kaktus adalah tanaman bandel yang gak manja dan gampang diurus.

Si tanaman berduri dengan nilai estetika tinggi ini berasal dari amerika, variasi nya pun bermacam-macam, dari yang kecil imut-imut seperti jenis sampai yang ukuran super jumbo seperti yang sering kita lihat di film-film koboi ala Hollywood. Dan katanya sih orang-orang Indian dulu sering mempergunakan kaktus tertentu sebagai obat tradisonal mereka.

Kaktus termasuk golongan tanaman succulent [mengandung banyak air di dalam tubuhnya], jadi di tempat tumbuh alaminya, sebagai bentuk adaptasinya, maka di kala musim kemarau batang kaktus akan menyusut perlahan dan ketika musim hujan maka batang kaktus akan membengkak.

Cara menanam kaktus pun tidak terlalu sulit, secara garis besar yang perlu diperhatikan antara lain pemilihan bibit yang baik, dan usahakan bibit yang kita beli berusia minimal 3 bulan dan jangan lupa untuk menanyakan tipe kaktus apa yang kita beli, karena ada dua tipe, yaitu kaktus yang suka mandi sinar matahari namun ada yang lebih suka semriwing di tempat yang teduh. Oh ya jangan lupa untuk mengadaptasikan tanaman ketika sampai di rumah, jangan terlalu menyolok perbedaan suhunya dengan tempat pembelian.

Langkah selanjutnya adalah pemilihan media tanam, biasanya berupa sekam atau tanah berpasir, jika kaktus yang mau kita tanam jenis yang menjulang, maka ukuran pot sebaiknya setengah dari ukuran tanaman, dan kalau yang kita pilih kaktus yang gendut, usahakan diameter pot lebih besar 5-10 cm dari tubuh kaktusnya. Nah setelah kaktus ditanam, jangan pernah menyiramnya langsung, biarkan saja hingga satu minggu agar akar tidak membusuk.

Hampir semua jenis kaktus cocok dengan iklim di Indonesia, hanya saja usahakan untuk tidak kebanyakan air atau di tempat yang sengatan mataharinya terlalu terik, karena akan membuat batang berwarna kusam dan kecoklatan, kan jadi enggak cantik kalo gitu hehe.

Dan jika ingin menikmati kecantikan kaktus di dalam rumah, maka bisa saja kita buat taman kaktus yang sangat memesona, yang kita perlukan adalah pot datar yang besar agar dapat menampung beberapa jenis kaktus, masukkan potongan kecil Styrofoam sampai seperempat pot untuk menyerap air, siapkan media tanamnya [pasir, sekam dan pupuk kandang] aduk rata dan diamkan sampai kering, setelah itu masukkan ke dalam pot dan tanam kaktus sesuai selera kita. Taburi dengan pasir malang [bisa dibeli di nursery] dan sebagai garnish bisa kita taruh batu-batu kecil di permukaan media, tapi ingat jangan disiram selama seminggu agar kaktus beradaptasi.

TIPS MERAWAT KAKTUS
• Simpan di tempat terang, karena tanaman kaktus menyukai banyak cahaya matahari. Minimal 5 jam sehari.
• Kebutuhan air : siram bila media tanam sudah kering sampai basah (air siraman keluar dari lubang pot). Penyiraman berikutnya tergantung cuaca dan penguapan, biasanya 1-2 x seminggu.
• Kebutuhan pupuk : larutkan pupuk organik sampi (2-3 cc/L air), kemudian siramkan pada media secukupnya dengan interval 2 minggu sekali.
• Pengendalian/pencegahan hama & penyakit : larutkan fungisida + supracide + larutkan dalam air, kemudian semprotkan pada seluruh bagian tanaman dengan interval 2 minggu sekali.
• Perbanyakan : dengan stek dan biji.

Nah…selamat mencoba lho bagi yang tertarik, melihat tanaman cantik seperti ini bisa membuat hati senang dan bahagia karena masih diberi nikmat dan kesempatan untuk bisa melihat hal-hal yang indah, sehingga menjadikan rasa syukur kepadaNya semakin bertambah.

Sumber : http://green.kompasiana.com/
dan sumber-sumber lain.

Rabu, 23 Oktober 2013

Tanaman hias yang satu ini Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia disekitar awal era tahun 1990-an. Tapi entah kenapa baru di awal tahun 2007 peminat terhadap tanaman ini kembali ramai. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari 1 abad, para peneliti, para pencinta dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang konon terancam punah ini.

Tumbuhan Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup selama jutaan tahun lalu sebelum era jaman batu, merupakan tanaman yang dapat terus berevolusi dan mampu menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang satu ini tetap bisa bertahan hidup dan lestari sampai sekarang ini telah mampumenarik minat para peneliti dan kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18.

Spesies-spesies baru dari tanaman Pachypodium terus dilahirkan, karena mampu berevolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies hibrida baru, tidak hanya pada habitat aslinya (Madagaskar), namun juga di seluruh benua di mana tanaman ini bisa tumbuh dan berevolusi. Konon masih terdapat ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum dapat teridentifikasi maupun terklasifikasi.

Sementara ini baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini pada era tahun 1990-an, jenis yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang dapat dijumpai di Indonesia) dikarenakan kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan oleh negara asalnya (Madagaskar), maupun negara-negara lain di Afrika Selatan.

Meski demikian ada spesies tanaman Pachypodium amat menarik perhatian para pecinta tanaman hias diIndonesia karena bentuk bonggolnya yang berduri dan bentuk daun dan bunganya yang cantik.

Pachypodium adalah tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar, Afrika bagian selatan (Mozambique, Angola, Botswana, Afrika Selatan, Zimbabwe, Namibia, dan Swaziland).

Banyak orang menganggap Pachypodium mirip dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya termasuk dalam golongan tanaman hias palem.

Sumber : http://tanaman.org/
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!